Menyaksikan upacara adat Bangka Belitung bisa menjadi salah satu pengalaman liburan yang tak terlupakan. Kepulauan ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga karena kekayaan budaya dan tradisinya yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang.
Tradisi-tradisi yang ada di Bangka Belitung terus terjaga dengan baik, salah satunya adalah upacara adat Bangka Belitung. Apabila Anda ingin menikmati keindahan alam Bangka Belitung sekaligus menyaksikan upacara adat Bangka Belitung, mari simak penjelasannya di bawah ini!
Upacara Adat Bangka Belitung
Dengan keindahan alamnya yang memikat, Bangka Belitung menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Jika Anda mengunjungi kepulauan ini, jangan lewatkan untuk menyaksikan beberapa upacara adat yang digelar oleh masyarakat lokal setempat. Berikut adalah beberapa upacara adat Bangka Belitung yang harus Anda ketahui:
1. Upacara Perang Ketupat
Perang Ketupat adalah sebuah tradisi unik dan menghibur yang dapat Anda saksikan di daerah Bangka Belitung. Tradisi ini biasanya diselenggarakan setiap awal Tahun Baru Islam atau pada tanggal satu Muharram. Warga setempat berkumpul di pantai untuk berpartisipasi dalam tradisi ini.
Upacara adat Bangka Belitung ini memiliki makna memberikan persembahan makanan kepada makhluk halus yang dipercayai tinggal di daratan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk untuk menjaga agar makhluk halus tersebut selalu bersikap baik terhadap penduduk desa.
Upacara Perang Ketupat dimulai dengan menyalakan meriam oleh panitia. Setelah itu, para peserta Perang Ketupat melempar ketupat ke orang lain sebagai bagian dari ritual tersebut. Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai tarian daerah seperti tari serimpang, tari komei, tari kedidi, tari campak, dan tari seramo.
Jika tertarik menyaksikan Perang Ketupat, Anda bisa mengunjungi desa-desa di sekitar Pantai Tempilang dan Bangka Barat pada Tahun Baru Islam. Di saat-saat tersebut, banyak perantau dan wisatawan datang untuk menikmati tradisi yang kaya akan budaya ini.
2. Upacara Nujuh Jerami
Nujuh Jerami adalah sebuah upacara peringatan yang telah menjadi bagian dari tradisi adat Bangka Belitung. Acara ini secara khusus diadakan di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam, yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan purnama, mengikuti kalender Cina, atau setiap bulan April dalam kalender masehi.
Upacara Nujuh Jerami merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen. Upacara adat Bangka Belitung ini telah diwariskan turun temurun sejak zaman nenek moyang, khususnya oleh komunitas yang tinggal di pemukiman di luar atau pedalaman hutan Bangka.
3. Upacara Buang Jung
Upacara Buang Jung merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh Suku Sekak di Desa Kumbung, Kecamatan Lempar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Masyarakat setempat meyakini bahwa upacara ini dapat membawa keselamatan bagi para nelayan dalam mencari hasil tangkapan di laut.
Dalam upacara ini, hasil bumi yang dimiliki oleh para nelayan diletakkan di atas perahu kecil dan dihanyutkan ke laut sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini berlangsung selama satu minggu sekitar bulan Juli hingga Agustus.
Selama periode tersebut, masyarakat dilarang untuk menangkap ikan, mengumpulkan kerang, menebang dan membakar pohon. Dan juga melakukan aktivitas wisata seperti diving atau snorkeling. Jika Anda tertarik untuk menyaksikan upacara ini, Anda dapat mengunjungi Desa Kumbung pada bulan Juli hingga Agustus.
4. Upacara Maras Tahun
Awalnya, upacara Maras Tahun di Kepulauan Bangka Belitung digelar untuk memperingati hasil panen petani padi. Namun, kini upacara tersebut tidak hanya sekedar perayaan hasil panen, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada petani dan nelayan.
Kata “Maras” berasal dari kata yang berarti memotong, sementara “Tahun” mengacu pada tahun kalender. Upacara ini melambangkan penghormatan terhadap tahun yang berlalu dengan penuh syukur, serta doa untuk kesuksesan di tahun mendatang bagi masyarakat Bangka Belitung.
Upacara Maras Tahun berlangsung selama tiga hari. Sebelum mencapai puncak perayaan, masyarakat dapat menikmati berbagai kesenian daerah seperti tari piring khas Minang dan pertunjukan teater Dulmuluk.
5. Upacara Mandi Belimau
Mandi Belimau adalah ritual adat yang dilaksanakan oleh penduduk Bangka Belitung sebagai bagian dari penyucian diri menyambut bulan Ramadhan. Upacara adat Bangka Belitung ini merupakan warisan leluhur yang telah dijalankan secara turun temurun oleh masyarakat setempat.
Menurut kepercayaan masyarakat, tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh Depati Bahrein, keturunan dari Kerajaan Mataram, Yogyakarta. Beliau bersama pengawalnya dulunya melarikan diri ke Pulau Bangka untuk menghindari pasukan Belanda.
Sebagai ritual adat yang memiliki nilai sakral yang penting, Mandi Belimau dilakukan secara turun temurun dan memerlukan peralatan khusus. Selain bahan dan peralatan yang diperlukan, faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan pelaksanaan ritual ini adalah tata cara yang sesuai dengan tradisi adat Bangka Belitung.
6. Sepintu Sedulang
Sepintu Sedulang merupakan semboyan dan moto yang mencerminkan semangat persatuan, kesatuan, dan gotong royong di masyarakat Pulau Bangka Belitung. Tradisi ini dilakukan pada saat pesta kampung, di mana dulang (nampan) berisi makanan dibawa untuk disajikan kepada tamu siapa pun yang hadir di masjid.
Baca juga: 15 Makanan Tradisional Bangka Belitung yang Lezat
Sepintu Sedulang merupakan upacara yang juga dikenal dengan sebutan “Nganggung,” yaitu kegiatan di mana setiap rumah di Bangka Belitung mengantarkan makanan menggunakan dulang atau nampan.
7. Rebo Kasan
Rebo Kasan merupakan sebuah ritual yang berasal dari masyarakat Melayu pesisir pantai di Kabupaten Bangka. Upacara Rebo Kasan ini adalah hasil akulturasi dari legenda, mitos nenek moyang masyarakat Bangka, dan nilai-nilai religius.
Ritual Rebo Kasan berasal dari tradisi masyarakat Melayu pesisir pantai di Kabupaten Bangka. Acara ini menggabungkan nilai-nilai religius, legenda, dan mitos nenek moyang mereka. Dipercaya bahwa pada akhir hari Rabu bulan Shafar, Tuhan akan menurunkan bencana dari fajar hingga matahari terbenam, baik besar maupun kecil.
Tujuan dari upacara ini adalah untuk menolak bencana dan mengharapkan kelimpahan hasil tangkapan nelayan. Masyarakat melaksanakan doa bersama dan mengakhiri dengan pencabutan ketupat lepas, sebagai lambang penolakan bala yang mungkin mengancam. Perayaan ini ditutup dengan makan bersama di dalam masjid, menggunakan nampan masing-masing peserta.
Setelah mengetahui upacara adat Bangka Belitung, mungkin Anda semakin tertarik untuk berkunjung dan liburan di kepulauan ini. Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan Belitung dan menyaksikan upacara adat, jangan ragu untuk menggunakan layanan Belitung tour dari Wisata Belitung.
Kami menyediakan beragam paket tour Belitung yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan dan minat wisatawan dari berbagai kalangan. Kami pastikan liburan Anda menyenangkan dan tak terlupakan di Pulau Belitung!
